Sabtu, 29 Maret 2014

ALIF LAM MIM

Tawassul kirim Al Fatihah kepada Rasulullah SAW, para Nabi, Sahabat 4 Rasulullah SAW, Malaikat Muqarrabin Qoribin, Para Wali, Syaikh Abdul Qodir Al Jilani, ayah ibu dan para leluhur kita, diri kita.
Bismillahirrohmanirrohim.
tingkat dasar
========================================
YAA QAWIYYU BI QUWWATIKA FANSHURNAA  243 x selama  7 hari
selesai.
==========================================
tingkat lanjut
YAA QAWIYYU BI QUWWATIKA FANSHURNAA
WAAW ALIF NUUN ALIF SHIIN
243 x selama  7 hari
selesai.
========================================
arti asmak di atas :
YAA QAWIYYU BI QUWWATIKA FANSHURNAA
Ya Allah Yang Maha Kuat, dengan kekuatan-Mu tolonglah kami.
WAAW ALIF NUUN ALIF SHIIN
==================================
Keterangan jumlah wirid 243 X. Huruf yang membentuk nama-nama planet diatur sedemikian rupa untuk menunjukkan kecepatan rotasi mereka. Huruf Waaw-Alif-Nuun-Alif-Shiin merujuk pada planet Venus yang dalam bahasa Arab muncul berdampingan dalam ayat 72 surat Al-Anfal dan  ayat 3 Surat Hud. Ada 243 ayat di antara kedua surat tersebut. Jadi, dibutuhkan tepatnya 243 hari bagi Venus untuk berputar mengelilingi porosnya sendiri. Dengan kata lain, revolusi dimulai lagi setelah 243 hari. Surat-surat yang terdiri dari kata Venus muncul sebanyak  243 ayat dalam Al Qur’an.
FUNGSI:
KEBAL SENJATA, KEKUATAN, KEBERANIAN, PERTOLONGAN/BANTUAN BERAGAM KESULITAN HIDUP SEPERTI MASALAH HUTANG/ASMARA/KARIER/ DLL
Semoga bermanfaat. Terima kasih.

perjalanan mencari Tuhan dalam diri

assalamualaikum para blogger semua, sehat dan selamat
hmm.. sudah lama saya tidak lage menulis di blog ini karena kesibukan yang saya lakukan dalam pencarian jati diri. saya melakukan yang namanya sebuah perjalanan untuk mendapatkan apa yang ada dipikiran saya terus menerus terbilang. 

Jumat, 12 Juli 2013

sejarah tentang islam dan isinya

Sebagaimana sudah maklum bahwa dalam pandangan Islam, manusia diciptakan untuk menyembah dan beribadah kepada Allah Swt. Dalam penjelasan yang lain, bahwa manusia di dunia yang fana ini pada hakikatnya bergerak menuju Allah Swt. (kesempurnaan yang mutlak). Dalam pada itu, Islam sebagai agama yang mencakup tiga sisi yang inheren, aqidah, syariat dan akhlak, disiapkan untuk membantu manusia agar dapat menyembah Allah Swt dengan benar, dan untuk memberikan bimbingan kepada manusia ke jalan menuju Allah Swt. yang paling mudah dan tepat sehingga sampai kepada Al-Haqq (Allah) dengan Al-Haqq (ajaran Allah). 
Kemudian dalam pandangan Islam juga, bahwa kedaulatan dan kekuasaan secara mutlak hanya milik Allah Swt. Selain sebagai Al-Khalik (Pencipta), Allah Swt. adalah Al-Rabb (Pemelihara) dan Al-Hakim (Penguasa) atas seluruh alam raya. Allah Swt. sebagai sumber wujud segala sesuatu, dan kepada-Nya segala sesuatu harus tunduk dan pasrah. Hal itu merupakan keyakinan yang paling prinsipil dalam Islam dan menjadi sebuah pandangan hidup kaum Muslimin (pandangan dunia Tauhid). Prinsip ini biasa disebut dengan Tauhid (monoteis). Doktrin tauhid dalam Islam tidak sekedar meyakini Ke-maha-tunggalan dan Ke-maha-esaan Wujud Allah Swt. saja, tetapi Ke-maha-tunggalan dan Ke-maha-esaan-Nya meliputi Ketuhanan (Ilahiyyah), u'budiyyah (Dzat yang berhak disembah), fi'liyyah (perbuatan), shifatiyyah (sifat), dan tasyri'iyyah (yang mempunyai otoritas secara mutlak untuk membuat undang-undang, memerintah dan melarang).
Ringkasnya, kepemimpinan ( baca: kekuasaan ) dalam Islam tidak sama dengan sistem kepemimpinan yang kita kenal selama ini. Imam Khomeini ra. dalam bukunya Al-Hukumah Al-Islamiyah berkata, " Kepemimpinan Islami tidak sama dengan sistem-sistem kepemimpinan yang ada sekarang ini." Kemudian beliau melanjutkan, "Sistem kepemimpinan Islami adalah kepemimpinan konstitusional, dengan pengertian para pemimpinnya terikat dengan undang-undang dan hukum yang termaktub dalam Alquran dan Sunnah. Oleh karena itu, kepemimpinan Islami adalah kepemimpinan konstitusional Ilahi (teokrasi)." (Al-Hukumah Al-Islamiyah 41-42). 
Menarik bahwa dalam Alquran disebutkan salah satu asma' Allah adalah Mawla' atau Wali, yang diambil dari kata wilayah. Maksudnya adalah Allah Swt. yang memimpin dan mengatur segala urusan manusia baik di dunia ataupun di akhirat (Lihat Allamah Thabathaba'i Al-Mizan 6 hal. 13). Kepemimpinan Allah Swt. tidak hanya berkaitan dengan alam raya (wilayah takwiniyyah) saja, tetapi meliputi kekuasaan atas hukum dan undang-undang yang mengatur urusan-urusan manusia (wilayah tasyri'iyyah). Oleh karena kepemimpinan dan kekuasaan yang mutlak ada pada Allah Swt., maka manusia sebagai ciptaan-Nya tidak mempunyai wewenang untuk memimpin kecuali setelah mendapatkan mandat dari-Nya.

Nabi Sebagai Mandataris Allah Swt 
Kemudian kepemimpinan Allah Swt. yang transenden itu diturunkan ( baca: dibumikan ) melalui para NabiNya. Mereka diangkat oleh Allah Swt. untuk memimpin umat manusia dan menegakkan keadilan. Mereka diberi oleh Allah Swt. otoritas untuk menentukan hukum dan undang-undang, dan mereka juga harus ditaati. Pengangkatan para nabi sebagai pemimpin semata-mata karena kehendak Allah, tanpa campur tangan kehendak selain-Nya, atau dengan kata lain, pengangkatan mereka tanpa musyawarah dengan siapapun. 
Allah memandang ketaatan kepada Nabi sama dengan ketaatan kepada-Nya dan melanggar perintah Nabi berarti melanggar perintah-Nya. Berikut ini ayat-ayat yang menegaskan kewajiban mentaati Nabi Saww :
"Taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya" (QS. Ali Imran, 3 : 32); "Dan tidaklah Kami utus seorang rasul melainkan agar ditaati dengan izin Allah " (QS. An-Nisa', 4 : 64); "Apa yang dibawakan oleh Rasul maka ambillah dan apa yang dilarang olehnya maka hentikanlah " (QS. Al-Hasyr, 59 : 7). "Tidaklah pantas bagi seorang mukmin maupun mukminah, jika Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan sebuah urusan, untuk memilih (keputusan yang lain) dari urusan-urusan mereka " (QS. Al-Ahzab, 33 : 36) dan ayat-ayat lainnya. 
Dalam bukunya, Imamat wa Rahbary, dengan sangat menarik Syahid Murtadha Muthahhari ra. menjelaskan tentang tugas-tugas Nabi Saww. sebagai mandataris Allah Swt. Pertama, Nabi bertugas menyampaikan hukum dan undang-undang Allah Swt. sebagaimana yang tersurat dalam Al-Qur'an surat al Hasyr ayat 7. Kedua, Nabi bertugas sebagai pemberi keputusan (qadhi atau hakim). Maksudnya ketika terjadi suatu masalah di tengah kaum Muslimin, maka beliau yang mempunyai otoritas untuk memutuskannya. Allah Swt. berfirman, "Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sehingga mereka menjadikan kamu sebagai hakim atas persengketaan yang terjadi di antara mereka dan mereka pun tidak merasa keberatan atas apa yang telah kamu putuskan serta mereka menyerahkannya (kepada kamu) " (QS. An-Nisa', 4 : 65). Ketiga, Nabi sebagai pemimpin dan penguasa masyarakat Muslim (QS. An-Nisa', 4 : 59) (Imamat wa Rahbari 47- 48). 
Dengan keterangan di atas, dapat kita simpulkan bahwa dalam sistem kepemimpinan Islami, pemimpin tertinggi adalah Allah Swt. Sedangkan Nabi Saww. merupakan seorang yang dipercayai oleh Allah Swt. untuk memimpin umat manusia sehingga dengan demikian Nabi adalah pemimpin dan penguasa kedua setelah Allah Swt. Sehubungan dengan ini, Imam Khomeini ra. berkata, "Pemerintahan dalam Islam berarti mengikuti undang-undang Islam. Sedangkan kekuasaan yang ada pada Nabi dan para pemimpin setelahnya merupakan kepanjangan dari Allah Swt., karena Allah Swt. telah memerintahkan untuk mengikuti Nabi dan para pemimpin setelahnya. Maka tidak ada tempat bagi pendapat dan kemauan individu. Semuanya mengikuti undang-undang Allah Swt " (Al-Hukumah Al-Islamiyyah 43).

Kepemimpinan Islam Pasca Rasulullah Saww.
Sebagaimana yang telah dijelaskan pada keterangan yang lalu bahwa dalam pandangan Islam, kekuasaan dan kepemimpinan secara mutlak berada di tangan Allah Swt., sebagai Pencipta dan Pemelihara jagat raya, dan segala sesuatu selain-Nya harus tunduk kepada-Nya, kemudian Ia memberikan mandat kepada Rasulullah Saww. sebagai kepercayaan-Nya, maka siapakah gerangan yang akan menjadi kepercayaan Allah setelah Rasulullah Saww. ? 
Mengingat bahwa Islam sebagai agama untuk semua generasi dari umat manusia sampai hari kiamat, maka kepemimpinan Islami tidak terhenti dengan wafatnya Rasulullah Saww. Kepemimpinan Islami terus terbentang dan berlaku selagi manusia masih ada di atas permukaan bumi ini. Nah, sehubungan dengan ini, maka masalah khilafah digulirkan dan dibicarakan bahkan menjadi isu yang paling hangat sejak wafatnya Rasulullah Saww sampai saat ini. 
Siapakah yang menjadi khalifah (pemimpin kaum muslimin pasca Rasulullah) ? Dan bagaimanakah proses pengangkatan khilafah Islamiyyah ? Sudah tidak menjadi rahasia lagi, bahwa terdapat dua pandangan yang kontradiktif tentang masalah khilafaturrasul. Sebagian kaum muslimin berpendapat bahwa pengangkatan khalifah diserahkan kepada umat Islam (baca : masyarakat Islam) dengan mengadakan voting atau syura', sementara sebagian yang lain berpendapat bahwa pengangkatan khalifah adalah hak Allah bukan hak manusia. 
Dalam bukunya, Makrifatullah, dengan sangat arif Ayatullah Makarim Syirazi menjelaskan duduk permasalahan khilafah. Menurutnya, sebenarnya perselisihan tidak akan muncul kalau kedua kubu itu mempunyai pemahaman yang sama tentang arti khalifah. Perselisihan timbul disebabkan kedua golongan tersebut memberikan makna yang berbeda tentang khalifah. 
Menurut golongan pertama, khalifah bertugas sebagai pemimpin negara dan urusan dunia saja. Oleh karena itu, seorang khalifah tidak diharuskan seorang yang paling baik, paling takwa dan paling memahami urusan-urusan agama. Persyaratan menjadi khalifah cukup dengan kemampuannya memimpin pemerintahan (kafa'ah). Atas dasar makna ini, pengangkatan seorang khalifah cukup dengan syura' atau menurut suara yang terbanyak, tidak harus ada intervensi dari syariat.
Sedangkan golongan kedua berpendapat bahwa jabatan khalifah sama dengan jabatan Rasulullah kecuali menerima wahyu. Oleh karena itu seorang khalifah mesti orang yang paling baik, paling takwa dan paling memahami agama Islam, dan tentunya mempunyai kafa'ah juga. Maka yang mengetahui manusia seperti itu tidak lain adalah Allah Swt. Sebagaimana Nabi diangkat oleh Allah Swt. demikian pula khalifah diangkat oleh-Nya melalui Rasul-Nya. Jadi kesepakatan akan terjadi antara dua golongan itu, jika mereka bersepakat dalam memaknai kata khalifah, (Lihat kitab Makrifatullah hal. 227-229).
Begitu pentingnya masalah kepemimpinan dalam Islam, sehingga dalam berbagai kitab hadis dikutip sebuah hadis, yang cukup populer dengan redaksi yang berbeda namun maksudnya sama, dari Rasulullah Saww. yang berbunyi, "Barangsiapa mati sementara dia tidak mengenal imam zamannya, maka dia akan mati seperti matinya orang-orang jahiliyyah."
Hadis ini dengan jelas menekankan pentingnya masalah kepemimpinan sehingga seorang muslim yang tidak mengenal imam yang ada pada zamannya, akan mati seperti orang-orang jahiliyyah. Sedemikian pentingnya masalah kepemimpinan dalam Islam, maka mungkinkah Rasulullah Saww. mengabaikankannya tanpa memberikan penjelasan kepada umat Islam tentang proses pengangkatannya dan kriteria-kriteria seorang pemimpin setelah beliau wafat ?. 
Sebagian mufasir mengatakan bahwa ayat yang berbunyi "Wahai Rasul, sampaikankanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Jika tidak kamu lakukan maka kamu tidak menyampaikan risalahNya " ( QS. Al-Maidah, 5 : 67) merupakan perintah dari Allah agar Rasulullah menyampaikan wasiat terakhir tentang kepemimpinan (Lihat tafsir Al-Mizan dan tafsir Majma' al Bayan berkenaan dengan ayat di atas). Juga ayat yang berbunyi, "Wahai orang-orang yang beriman taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul dan Ulil amri dari kalian" (QS. An-Nisa', 4 : 59) merupakan perintah dari Allah untuk menaati para pemimpin setelah Rasulullah Saww.
Kalau kita merujuk ke literatur-literatur hadis, maka akan kita dapatkan sejumlah riwayat dari Rasulullah Saww. tentang masalah khalifah atau pemimpin, diantaranya, "Agama ini akan tetap tegak sampai hari kiamat atau selama kalian dipimpin oleh dua belas khalifah. Semuanya dari Quraisy " (Shahih Muslim jilid 6 halaman 4); "Islam akan senantiasa mulia sampai dengan dua belas khalifah " (Shahih Bukhari jilid 8 halaman 105 dan 128) dan riwayat-riwayat lainnya yang tidak perlu kami sebutkan semuanya. Dengan demikian, masalah kepemimpinan pasca-Rasulullah Saww. telah selesai dibicarakan, yaitu ke-khilafahan. []


1."Hasan dan Husain adalah para pemuka kaum muda di Surga."
2. "Husain adalah dari aku dan aku dari Husain, Allah bersahabat kepada mereka yang bersahabat dengan Husain, dan memusuhi mereka yang memusuhinya."
3. "Barangsiapa ingin melihat seseorang yang hidup di bumi tetapi kemuliaannya dihormati oleh para penghuni surga, lihatlah kepada cucuku Husain."
4. "Wahai putraku, dagingmu adalah dagingku, dan darahmu adalah darahku : Engkau adalah seorang pemimpin spiritual, putra seorang pemimpin spiritual dan saudara pemimpin spiritual. Engkau adalah Imam yang berasal dari Rasul, putra Imam yang berasal dari Rasul, dan saudara dari Imam yang berasal dari Rasul. Engkau adalah ayah dari 9 Imam, yang ke 9 dari mereka adalah Al-Qaim (pemimpin spiritual terakhir yang ma'shum)."
5. "Hukuman di neraka yang diberikan kepada pembunuh Husain, adalah sama dengan setengah dari total hukuman yang diberikan terhadap seluruh manusia yang berdosa di dunia."
6. Ketika Nabi memberitahu Fathimah tentang kesyahidan yang akan terjadi atas Husain, tiba-tiba Fathimah menangis tersedu-sedu dan bertanya, "Wahai ayahku, kapan anakku akan syahid ? Pada suatu saat yang sangat kritis, jawab Nabi suci, ketika aku atau engkau ataupun Ali sudah tiada." Hal ini semakin menekan kesedihannya, dan dia bertanya lagi, "Wahai ayahku, lalu siapa yang akan memperingati kesyahidan Husain ?" Nabi Suci berkata, "Para lelaki dan wanita dari para pengikutku, yang akan menjadi sahabat Ahlul Baitku, akan berkabung untuk Husain dan memperingati kesyahidannya tiap tahun dalam setiap abad." []

Dikutip dari 14 Manusia Suci, Pustaka Hidayah, Bandung

Kepada Ali bin Syu'aib
Wahai Ali, orang yang paling baik penghidupannya adalah orang yang penghasilannya membaikkan kehidupan orang lain dan orang yang paling jelek penghidupannya adalah orang yang penghasilannya tidak menghidupi orang lain.
Wahai Ali, berbuat baiklah kepada binatang ternak karena sesungguhnya mereka (bagaikan) binatang liar. Tidaklah pergi jauh suatu kaum melainkan kembali kepada mereka.
Wahai Ali, sesungguhnya sejelek-jelek manusia adalah orang yang menahan pertolongannya, menghabiskan hidupnya sendirian dan memukul pembantunya. Berbaik sangkalah kepada Allah karena sesungguhnya orang yang baik sangkanya kepada Allah maka Allah sesuai dengan prasangkanya. Barang siapa yang rela dengan rezeki yang sedikit maka akan diterima amalannya yang sedikit. Barang siapa yang rela dengan yang sedikit dari yang halal maka akan diringankan pertolongannya dan itu merupakan kenikmatan bagi pemiliknya, Allah akan memperlihatkan baginya penyakit dunia dan penawarnya serta mengeluarkannya dari dunia dengan selamat menuju rumah kebahagiaan (surga). Tiada ketenangan bagi orang kikir, tiada kelezatan bagi pendengki, tiada kecukupan bagi orang gelisah dan tiada kejantanan bagi pendusta.

Kepada Abdul Azhim Al-Hasani
Sampaikan dariku salam kepada para wakilku, katakan kepada mereka: jangan jadikan dirimu jalan bagi setan, temui mereka (umat) dengan perkataan yang benar, tunaikan amanat, tinggalkan mereka dengan diam, tinggalkan perdebatan pada hal-hal yang tidak menjaga mereka, pertemukan sebagian mereka dengan sebagian yang lain, saling berkunjunglah karena sesungguhnya hal itu mendekatkan kepadaku dan tidak menyibukkan mereka dengan mencela satu yang lainnya. Dan sesungguhnya aku bersumpah dengan diriku, barang siapa yang melakukan hal itu (saling mencela) atau membenci seorang dari wakil-wakilku, aku berdoa agar Allah menyiksanya di dunia dengan azab yang keras dan di akhirat termasuk ke dalam orang-orang yang merugi. []

[Diterjemahkan dari Kitab Aimmatuna oleh Indra Yuniar, S.S.]

Imam Musa bin Ja'far a.s. berkata :
"Ada tiga orang yang dinaungi oleh Arasy Allah pada hari kiamat, saat tiada naungan-Nya : Laki-laki yang mengawinkan saudaranya yang Muslim ; Yang mengabdi padanya, dan Yang menjaga rahasianya."
[Wasail Al-Syi'ah, XIV, h. 27]

"Barang siapa menahan diri dari perkawinan karena takut akan kemiskinan, maka sesungguhnya ia telah berprasangka buruk kepada Allah."
[M.H.H. al-Amili, al-Wasa'il al-Syi'ah, jilid 14, h. 24]  

Seorang laki-laki bernama Dzi'lib Al-Yamani bertanya : "Dapatkah Anda melihat Tuhanmu, wahai Amir Al-Mukminin ?" Jawab Imam Ali r.a. : "Akankah aku menyembah sesuatu yang tidak kulihat ?!" "Bagaimana Anda melihat-Nya ?" tanya orang itu lagi. Maka beliau pun memberikan penjelasannya :
Dia (Allah) takkan tercapai oleh penglihatan mata, tetapi oleh mata-hati yang penuh dengan hakikat keimanan. Ia dekat dari segalanya tanpa sentuhan. Jauh tanpa jarak. Berbicara tanpa harus berpikir sebelumnya. Berkehendak tanpa perlu berencana. Berbuat tanpa memerlukan tangan. Lembut tapi tidak tersembunyi. Besar tapi tidak teraih. Melihat tapi tidak bersifat inderawi. Maha Penyayang tapi tidak bersifat lunak.
Wajah-wajah merunduk di hadapan keagungan-Nya. Jiwa-jiwa bergetar karena ketakutan terhadap-Nya. []
[Dikutip dari : Mutiara Nahjul Balaghah, Mizan, Bandung] 

Pada suatu hari, Bahlul mendatangi suatu masjid. Tiba-tiba dia mendengar seorang laki-laki menyombongkan dirinya di hadapan orang banyak di dalam masjid. Orang itu mengatakan bahwa dia adalah seorang alim yang menguasai berbagai cabang ilmu. Di antara perkataannya kepada orang-orang itu adalah, "Sesungguhnya Ja'far bin Muhammad (ash-Shadiq) berbicara dalam beberapa masalah yang tidak menarik bagiku. Di antaranya :
Dia (Ja'far) berkata, 'Sesungguhnya Allah maujud (ada), tetapi Dia tidak dapat dilihat, baik di dunia maupun di akhirat.' Maka, bagaimana mungkin sesuatu yang ada tidak dapat dilihat ? Sungguh, ini betul-betul suatu hal yang bertentangan.
Dia berkata, 'Sesungguhnya setan disiksa di dalam api neraka, padahal, kata orang itu, setan diciptakan dari api. Maka, bagaimana mungkin sesuatu disiksa dengan apa yang ia diciptakan darinya ?
Dia juga berkata, 'Sesungguhnya perbuatan-perbuatan seorang hamba dinisbatkan kepada dirinya sendiri,' padahal ayat-ayat Alquran menunjukkan secara jelas bahwa Allahlah pencipta segala sesuatu (termasuk perbuatan).
Ketika Bahlul mendengar perkataan orang itu, dia segera mengambil tongkatnya dan memukulkannya ke kepala orang itu sehingga melukainya. Darah pun mengalir ke wajah dan jenggotnya.
Maka, orang itu menghadap Harun ar-Rasyid dan mengadukan perbuatan Bahlul tersebut terhadapnya.
Ketika Bahlul dihadirkan ke hadapan Harun dan ditanyai mengapa dia memukul orang itu, dia berkata kepada Harun, "Sesungguhnya orang ini menyalahkan Ja'far bin Muhammad a.s. dalam tiga masalah."
Pertama, dia mengatakan bahwa segala perbuatan seorang hamba sesungguhnya Allahlah pelakunya. Maka, luka yang dialami orang ini semata-mata perbuatan Allah. Lalu, apa salahku ?
Kedua, dia mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada pasti dapat dilihat, maka jika rasa sakit ada pada kepalanya, kenapa ia tidak terlihat ?
Ketiga, sesungguhnya dia diciptakan dari tanah dan tongkat ini juga berasal dari tanah, sedangkan dia mengatakan bahwa suatu jenis tidak akan disiksa dengan jenis yang sama. Jika memang demikian halnya, lalu mengapa dia merasakan sakit dari pukulan tongkat ini ?
Harun ar-Rasyid merasa kagum dengan perkataan Bahlul. Maka, dia melepaskan Bahlul dari hukuman karena memukul orang itu. []
[Dikutip dari Sayyid Muhammad Asy-Syirazi, 99 Kisah Hikmah Pilihan, Pustaka Hidayah, Bandung]

Shalat qodho hukumnya wajib sebagaimana wajibnya melakukan sholat ada'. Shalat qodho ialah : Melakukan shalat di luar waktu yang telah ditentukan, untuk menggantikan shalat wajib harian yang tertinggal. Shalat ada' ialah : Melakukan shalat wajib harian tepat menurut waktu yang telah ditentukan.
Pengertian qodho hanya berlaku bagi shalat-shalat harian (5 waktu). Sedang untuk shalat wajib lainnya, seperti shalat Jum'at, Ied (hari raya, baik ghodir, fitri dan adhha), Ayat dan sebagainya, tidak ada kewajiban untuk meng-qodhonya saat tertinggalkan, kecuali untuk gerhana matahari dan gerhana bulan yang total, walaupun diharuskan untuk melakukannya di luar waktu (qodho gerhana yang total), saat melakukannya tidak diharuskan dengan niat qodho, cukup dengan niat melakukan shalat.
Kewajiban qodho ini dibebankan pada setiap orang, baik dengan sengaja dia meninggalkan shalat atau tidak, dia mengerti hukum keharusannya atau tidak, dalam keadaan tidur atau terbangun, bepergian atau di rumah, dan lain sebagainya. Sebagaimana bunyi dalil berikut :

Imam Bagir a.s. ditanya tentang seseorang melakukan shalat dalam keadaan hadas (belum bersuci), atau shalat yang terlewatkan olehnya karena lupa atau tertidur dan belum ia lakukan ? Dijawab oleh beliau : "Wajib baginya untuk mengqodho shalat yang tertinggal kapan saja ia mengingatnya, baik malam maupun siang. Tetapi apabila (timbulnya ingatan) masuk pada waktu shalat berikutnya, dan belum menyelesaikan (melakukan) shalat yang tertinggalkan olehnya, maka lakukan shalat qodho asalkan tidak takut akan habisnya pemilik waktu, karena pemilik waktu lebih berhak untuk dilaksanakan terlebih dahulu daripada shalat qodho. Seusai melakukan (shalat) pemilik waktu, lakukanlah shalat yang tertinggal, dilarang melakukan shalat nafilah walaupun satu rakaat, sebelum tanggungan kewajibannya diselesaikan secara keseluruhan. [Al-Wasail, juz 4, hal. 248.]

Kewajiban qodho ditetapkan dan dipikulkan pada pundak mereka yang memiliki kewajiban ada', dan kewajiban qodho jatuh dengan jatuhnya kewajiban ada'. Kurang warasnya akal, anak-anak (mereka yang belum menanggung kewajiban), kekufuran, hilangnya kesadaran diri yang tidak disengaja dan lain sebagainya, atau karena keluarnya darah haid, nifas (sehabis melahirkan), pada semua keadaan tersebut tidak wajib qodho (karena kewajiban ada' terangkat dari mereka), sampai kewajiban ada' terpikulkan kembali ke pundak mereka (dengan pulihnya keadaan).

Tiga perkara yang menyebabkan hilangnya kewajiban qodho :
1. Melaksanakan kewajiban tepat pada waktunya.
2. Meninggalnya seseorang sebelum masuknya waktu sholat.
3. Kekufuran, kecuali bagi yang murtad kemudian bertaubat kembali.

Ada dua kesimpulan setelah melakukan shalat qodho : *)
Pertama, bagi mereka yang shalatnya (atau kewajiban-kewajiban lain) tertinggal karena lupa (atau karena alasan-alasan lain yang menafikan kewajiban ada') tidak dianggap berdosa setelah mereka mengqodho' kewajiban-kewajiban tadi, karena saat mereka lupa kewajiban ditangguhkan sampai mereka ingat atau dengan hilangnya alasan-alasan tadi.
Kedua, bagi mereka yang meninggalkan kewajiban-kewajiban tersebut secara sengaja, tetap mendapat dosa walaupun mereka telah ganti dengan mengqodhonya, karena mereka meninggalkan kewajiban-kewajiban yang menjadi tanggung jawab mereka.


*) Harus tertib saat mengqodho shalat yang tertinggal secara berurutan dan tidak terlewatkan sampai hari berikutnya. Contohnya : Jika yang tertinggal adalah shalat Subuh, Dhuhur, Ashar, Maghrib, kemudian ingat setelah masuknya waktu Isya, atau yang tertinggal hanya shalat Dhuhur dan Ashar, dan ingatnya setelah masuk waktu Maghrib, atau yang tertinggal adalah shalat yang jenisnya sama (tiga kali shalat Subuh saja misalnya) di hari yang berbeda-beda, maka shalat Subuh walaupun qodho lebih didahulukan dari pada shalat Dhuhur yang ada', karena keberadaan shalat Subuh lebih dahulu dari pada shalat Dhuhur, walaupun harinya telah lewat. []

[Dikutip dan diringkas dari buku " Shalat Dalam Mazhab Ahlul Bait", Hidayatullah Husein al Habsyi.]

Rabu, 10 Juli 2013

BULAN RAMADHAN

MARHABAN YA RAMADHAN....

SEGALA PUJI BAGI ALLAH, TUHAN SEKALIAN ALAM


Ya Allah, jadikanlah puasaku di bulan ini sebagaimana puasanya orang yang benar-benar berpuasa, jadikanlah ibadah malamku di bulan ini sebagaimana ibadahnya orang-orang yang sungguh-sungguh beribadah, jagalah aku dari tidurnya orang-orang yang lupa dan hapuskanlah segala dosaku wahai Tuhan semesta alam, ampunilah aku wahai Pengampun orang-orang yang bersalah.
 bagi seluruh umat islam yang menjalankan puasa ...........

Rabu, 19 Juni 2013

MEMILIKI TEMAN JIN

Jin adalah salah satu makhluk yang tertera jelas dalam Al Qur’an. Surah Al-Jinn (Arab: الجنّ ,”Jin”) adalah surah ke-72 dalam al-Qur’an. Surah ini tergolong surah Makkiyah dan terdiri atas 28 ayat. Dinamakan “al-Jinn” yang berarti “Jin” diambil dari kata “al-Jinn” yang terdapat pada ayat pertama surah ini. Pada ayat tersebut dan ayat-ayat berikutnya diterangkan bahwa Jin sebagai makhluk halus telah mendengar pembacaan al-Qur’an dan mereka mengikuti ajaran al-Qur’an tersebut.
Kharaithi di dalam kitabnya yang berjudul Hawatiful Jan (bisikan-bisikan jin) mengetengahkan sebuah hadis yang teksnya bahwasanya ada seorang lelaki dari kalangan Bani Tamim yang dikenal dengan nama Rafi’ bin Umair, ia menceritakan tentang keadaannya sewaktu baru masuk Islam. Untuk itu ia menceritakan, sesungguhnya pada suatu hari aku sedang mengadakan perjalanan, dan sewaktu sampai di Ramal Alij telah malam, perasaan kantuk yang sangat menguasai diriku lalu segera aku turun dari unta kendaraanku, kemudian untaku itu kutambatkan dengan kuat.
Aku tidur, dan sebelum tidur terlebih dahulu aku meminta perlindungan; untuk itu aku mengatakan, ‘Aku berlindung kepada penunggu lembah ini dari gangguan jin.’ Di dalam tidurku aku bermimpi melihat seorang laki-laki yang membawa sebilah tombak kecil di tangannya, ia bermaksud untuk menusukkannya ke leher untaku. Aku terbangun karena terkejut, dan aku melihat ke kanan dan ke kiri, tetapi ternyata aku tidak melihat sesuatu pun yang mencurigakan. Aku berkata kepada diriku sendiri, ini adalah mimpi buruk.
Kemudian aku kembali meneruskan tidurku, dan ternyata aku kembali melihat laki-laki itu berbuat hal yang sama, maka aku terbangun karena terkejut. Aku lihat untaku gelisah dan sewaktu aku menengoknya ternyata ada seorang laki-laki muda seperti yang aku lihat di dalam mimpiku seraya membawa tombak kecil di tangannya, dan aku lihat pula ada seorang syekh (orang tua) yang sedang memegang tangan laki-laki itu seraya melarangnya supaya untaku itu jangan dibunuh.
Ketika keduanya sedang saling bertengkar, tiba-tiba muncullah tiga ekor sapi jantan liar. Lalu orang (jin) yang tua itu berkata kepada jin yang muda, ‘Sekarang pergilah kamu, dan ambillah mana saja yang kamu sukai dari banteng-banteng liar itu, sebagai tebusan dan pengganti dari unta milik manusia yang aku lindungi ini.’
Lalu jin muda itu mengambil seekor sapi jantan (banteng) liar dan langsung pergi dari situ, selanjutnya aku menoleh kepada jin tua itu, dan ia berkata kepadaku, ‘Hai kamu! Apabila kamu beristirahat pada salah satu lembah, kamu merasa takut akan keseramannya, maka katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb Muhammad dari keseraman lembah ini.’ Jangan kamu meminta perlindungan kepada jin siapa pun, karena sesungguhnya hal itu adalah perkara yang batil.
Aku bertanya, ‘Siapakah Muhammad itu?’ Ia menjawab, ‘Dia adalah nabi berkebangsaan Arab; dia bukan dari timur dan bukan pula dari barat, dan dia diutus pada hari Senin.’ Aku bertanya lagi, ‘Maka di manakah tempat tinggalnya?’ Ia menjawab, ‘Di kota Yatsrib yang banyak pohon kurmanya.’ Maka segera aku menaiki kendaraan untaku ketika waktu subuh telah lewat (matahari terbit) dan aku pacu untaku hingga masuk ke dalam kota Madinah. Sesampainya aku di Madinah Rasulullah saw. melihatku dan beliau langsung menceritakan tentang perihal diriku dan apa yang telah terjadi denganku sebelum aku menceritakan sepatah kata pun tentangnya. Dia mengajak aku untuk masuk Islam, maka aku pun masuk Islam.”
Said bin Jubair mengatakan, “Kami telah memastikan, bahwa berkenaan dengan dialah Allah menurunkan firman berikut ini, ‘Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.’” (Q.S. Al-Jin 6)
Khara’ithi mengetengahkan pula hadis lainnya melalui Muqatil, sehubungan dengan ayat ini, yaitu firman-Nya, “Dan bahwasanya, jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang banyak.” (Q.S. Al-Jin 16) Muqatil menceritakan, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang kafir Quraisy, yaitu sewaktu mereka tidak mendapatkan hujan selama tujuh tahun.
===BERTEMAN DENGAN JIN===
Bersaudara dengan jin tentu saja diperbolehkan asal tidak melanggar batas. Yang dilarang adalah menyembah jin. Perlakukan jin sama dengan makhluk Allah SWT dimana kita perlu menghormati eksistensinya dan kita tidak boleh berlaku semena-mena. Bukankah kita tidak boleh merusak pohon, membunuh binatang semau kita, berbuat jahat kepada siapapun termasuk kepada jin?
Nah, berikut amalan bertemu dan berteman dengan jin adalah:
SHOLAT SUNNAH 2 RAKAAT
AL-FATIHAH
DO’A NURBUAT
BISMILLAAHIR ROHMAANIR ROHIIM. ALLAHUMMA DZISSHULTHANIL AZHIIM. WA DZIL MANNIL QADIM WA DZIL WAJHIL KARIIM WA WALIYYIL KALIMAATIT TAMMAATI WAD DA’AWAATI MUSTAJAABATI ‘AAQILIL HASANI WAL HUSAINI MIN ANFUSIL HAQQI ‘AINIL QUDRATI WANNAAZHIRINNA WA ‘AINIL INSI WAL JINNI WA IN YAKADUL LADZIINNA KAFARUU LA YUZLIQUUNAKA BI-ABSHAARIHIM LAMMA SAMI’UDZ DZIKRA WA YAQUULUUNA INNAHU LAMAJNUUN WA MAA HUWA ILLA DZIKRUL LIL ‘AALAMIINA WA MUSTAJAABU LUQMANAL HAKIIMI. WA WARITSA SULAIMAANU DAAWUDA ‘ALAIHIMAS SALAAMU AL WADUUDU DZUL ‘ARSYIL MAJIIDI THAWWIL ‘UMRII WA SHAHHIH AJSADII WAQDHI HAAJATII WA AKTSIR AMWAALII WA AULAADII WA HABBIB LINNAASI AJMA’IN WATABAA ‘ADIL ‘ADAA WATA KULLAHAA MIN BANII AADAMA ‘ALAIHIS SALAAMU MAN KAANA HAYYA WA YAHIQQAL QAULU ‘ALALKAAFIRIINA WAQUL JAA AL HAQQU WA ZAHAQALBAATHILU INNAL BAATHILA KAANA ZAHUUQAA. WA NUNAZZILU MINAL QUR’AANI MAA HUWA SYIFAA-UW WA RAHMATUL LIL MU’MINIINA. WA LAA YAZIIDU ZHAALIMIINA ILLAA KHOSAARON. SUBHAANA RABBIKA RABBIL ‘IZZATI ‘AMMMAA YASHIFUUNA WA SALAAMUN ‘ALAL MURSHALIINA WAL HAMDU LILLAHI RABBIL ‘AALAMIIN
SURAH AL-JINN (hapalkan dan baca berulang-ulang sampai anda ditemui jin)
QUL UUHIYA ILAYYA ANNAHU ISTAMA’A NAFARUN MINA ALJINNI FAQAALUU INNAA SAMI’NAA QUR-AANAN ‘AJABAAN YAHDII ILAA ALRRUSYDI FAAAMANNAA BIHI WALAN NUSYRIKA BIRABBINAA AHADAAN WA-ANNAHU TA’AALAA JADDU RABBINAA MAA ITTAKHADZA SHAAHIBATAN WALAA WALADAAN  WA-ANNAHU KAANA YAQUULU SAFIIHUNAA ‘ALAA ALLAAHI SYATHATHAAN WA-ANNAA ZHANANNAA AN LAN TAQUULA AL-INSU WAALJINNU ‘ALAA ALLAAHI KADZIBAAN WA-ANNAHU KAANA RIJAALUN MINA AL-INSI YA’UUDZUUNA BIRIJAALIN MINA ALJINNI FAZAADUUHUM RAHAQAAN WA-ANNAHUM ZHANNUU KAMAA ZHANANTUM AN LAN YAB’ATSA ALLAAHU AHADAAN WA-ANNAA LAMASNAA ALSSAMAA-A FAWAJADNAAHAA MULI-AT HARASAN SYADIIDAN WASYUHUBAAN WA-ANNAA KUNNAA NAQ’UDU MINHAA MAQAA’IDA LILSSAM’I FAMAN YASTAMI’I AL-AANA YAJID LAHU SYIHAABAN RASHADAAN WA-ANNAA LAA NADRII ASYARRUN URIIDA BIMAN FII AL-ARDHI AM ARAADA BIHIM RABBUHUM RASYADAAN WA-ANNAA MINNAA ALSHSHAALIHUUNA WAMINNAA DUUNA DZAALIKA KUNNAA THARAA-IQA QIDADAAN WANNAA ZHANANNAA AN LAN NU’JIZA ALLAAHA FII AL-ARDHI WALAN NU’JIZAHU HARABAAN WA-ANNAA LAMMAA SAMI’NAA ALHUDAA AAMANNAA BIHI FAMAN YU/MIN BIRABBIHI FALAA YAKHAAFU BAKHSAN WALAA RAHAQAAN WA-ANNAA MINNAA ALMUSLIMUUNA WAMINNAA ALQAASITHUUNA FAMAN ASLAMA FAULAA-IKA TAHARRAW RASYADAAN WA-AMAA ALQAASITHUUNA FAKAANUU LIJAHANNAMA HATHABAAN WA-ALLAWI ISTAQAAMUU ‘ALAA ALTHTHHARIIQATI LA-ASQAYNAAHUM MAA-AN GHADAQAAN LINAFTINAHUM FIIHI WAMAN YU’RIDH ‘AN DZIKRI RABBIHI YASLUK-HU ‘ADZAABAN SHA’ADAAN WA-ANNA ALMASAAJIDA LILLAAHI FALAA TAD’UU MA’A ALLAAHI AHADAAN WA-ANNAHU LAMMAA QAAMA ‘ABDU ALLAAHI YAD’UUHU KAADUU YAKUUNUUNA ‘ALAYHI LIBADAAN QUL INNAMAA AD’UU RABBII WALAA USYRIKU BIHI AHADAAN QUL INNII LAA AMLIKU LAKUM DHARRAN WALAA RASYADAAN QUL INNII LAN YUJIIRANII MINA ALLAAHI AHADUN WALAN AJIDA MIN DUUNIHI MULTAHADAAN ILLAA BALAAGHAN MINA ALLAAHI WARISAALAATIHI WAMAN YA’SHI ALLAAHA WARASUULAHU FA-INNA LAHU NAARA JAHANNAMA KHAALIDIINA FIIHAA ABADAAN HATTAA IDZAA RA-AW MAA YUU’ADUUNA FASAYA’LAMUUNA MAN ADH’AFU NAASIRAN WA-AQALLU ‘ADADAAN QUL IN ADRII AQARIIBUN MAA TUU’ADUUNA AM YAJ’ALU LAHU RABBII AMADAAN ‘AALIMU ALGHAYBI FALAA YUZHHIRU ‘ALAA GHAYBIHI AHADAAN ILLAA MANI IRTADAA MIN RASUULIN FA-INNAHU YASLUKU MIN BAYNI YADAYHI WAMIN KHALFIHI RASHADAAN LIYA’LAMA AN QAD ABLAGHUU RISAALAATI RABBIHIM WA-AHATHA BIMAA LADAYHIM WA-AHSAA KULLA SYAY-IN ‘ADADAAN
Ketika membaca berulang-ulang surah jin tentu akan terjadi berbagai fenomena penampakan yang berbeda-beda. Namun lanjutkan saja membaca surah al Jin sehingga jin benar-benar datang (bila belum datang ulangi lain waktu seterusnya), bila jin datang maka dia akan menampakkan tanda-tanda bahkan akan menyapa anda dan kemudian sampaikan niat anda untuk menjadikannya teman dan ajukan syarat agar pertemanan itu berlangsung atas dasar keikhlasan dan tidak ada syarat-syarat yang memberatkan. Bila jin mau bersahabat dengan anda maka dia akan memberikan kunci password pemanggilan. Misalnya: jin meminta agar anda menghentakkan kaki ke tanah sambil memanggil namanya dan seterusnya.
TAMBAHAN: setelah anda selesai wirid maka tiupkan ke sebuah benda (misalnya cincin) maka benda ( cincin ) tersebut akan disayangi  jin.
@@@

Minggu, 16 Juni 2013

ASMAK PENYEMBUH

assalamualaikum wbr....
puji syukur saya panjatkan atas keberkahan allah swt yang mana masih memberikan nikmat kepada saya. saya memang masih muda dan belum menikah, disini saya akan memposting sesuatu asmak yang saya dapatkan saat saya melakukan tafakur memohon ampun kepada allah swt. allah swt memang sungguh maha baik, kepada seluruh makhluk ciptaannya. dia tak pernah pilih kasih untuk memberikan rahmat kepada siapa pun termaksud saya sendiri. saya mengalami hal yang belom pernah saya alami sebelumnya dimana saya, saat melakukan tafakur tersebut. perasaan saya seperti tertidur dengan posisi duduk,  memang lupa semau kejadian saat itu. tapi yang saya sangat ingat adalah rasa nyaman yang sangat tenang. kedamaian yang sangat dalam. betul-betul sangat tenang.
mungkin sebagian pembaca tidak akan pernah percaya dengan apa yang pernah saya alami itu.
dan menganggap saya pembohong, penipu, munafik atau sebagainya...

tapi dari perjalanan supranatular yang saya alami itu. saya memdapatkan sesuatu  dari allah swt/.
yang saya namakan asmak penyembuh.
ini adalah gabungan dari sholawat dan basmalah.
awalnya memang saya sendiri gak percaya dengan asmak tersebut. saya menganggap itu, bisikan setan yang ingin menyesatkan saya kejalan kenistaan. yang sangat di benci oleh allah swt.
tapi setelah saya iseng-iseng mencobanya, saya seperti larut didalamnya.

oke buat semua pembaca blog yang penasaran dengan asmak tersebut

Bismillahirrohmanirrohim, pada kesempatan yang mulia ini dengan memohon ijin Allah SWT, saya ijasahkan Asmak penyembuh.

====Allahumma sholli  alaa Sayidina Muhammadin, Bismillahiromannirohim

asmak penyembuh ini memang sedikit aneh, dengan membuat basmalah ny di belakang, hal ini lah yang membuat saya pertama kali meragukan. apakah benar asmak ini, allah yang memberikan kepada saya atau itu bisikan iblis yang ingin menyesatkan aku.  
pertanyaan-pertanyaan pun bermunculan dalam kepala saya, membuat saya hampir gila tuk menjawab semua pertanyaan yang muncul dari kepada saya. Dan akhir nya saya pun memutuskan untuk melakukan tafakur lagi. Memohon petunjuk..
ridho allah ..
agar saya di beri keyakinan tentang hal itu.
...............................................................................................................................
........................................................................................... 

 Mohon bagi yang ingin mengamalkan ASMAK PENYEMBUH tersebut agar allah meridhoi segala sesuatu yang saudara sekaliann. Dengan memohon ampun terlebih dahulu dengan melakukan shalat taubat terlebih dahulu. Yang dilakukan pada pukul 00.00 wib.,,
lalu setelah itu ....
lakukanlah
Tawassul kirim Al Fatihah masing-masing satu kali (bisa dibaca dengan bahasa dan kalimat apapun) kepada:
• Nabi Muhammad SAW
• Nabi Khidir A.S.
• Para Malaikat -NYA
• Sulthanul Auliya Syeh Abdul Qadir al Jailani
• Sunan Gunung Jati
• Sunan Kalijaga
• Ayah dan Ibu kita
 

  Tawassul ini hanya contoh dan jika saudara ingin menambahkannya.. Itu mungkin akan lebih baik...
saya akhiri sampai disini saja dan sem0ga bermanfaat bagi seluruh pembaca blogger. 
dan jika ada kata saya yang kurang bagus.. Mohon dimaafkan
karena saya juga manusia biasa.. yang masih banyak dosa

........................................wassalamm....................................... 

Jumat, 31 Mei 2013

puisi , rasa

pagi ku hilang dalam sepi
seakan siang tak akan kembali
gelap, walau hari ini begitu terang

pekat dalam hari masih terasa
saat ku melamuni masa lalu
memang, menyesal itu takkan berarti lagi
kerena semua telah berlalu

kenangan..
seperti luka yang teriris
ditubuh indah ini.,
walau sakit mulai hilang
tapi bekasnya masih terlihat
i